Selasa, 17 April 2018

KEWAJIBAN MEMILIH PEMIMPIN

Tahun 2018 dan tahun 2019 adalah tahun politik. Karena di tahun ini bangsa Indonesia akan memilih pemimpinnya. Di tahun 2018 ada pilkada serentak (Jabar, Jateng, Jatim, dan lain-lain). Sedangkan di tahun 2019 akan ada pemilihan presiden. Umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia tentunya akan ikut andil dalam pesta demokrasi ini.

Dalam Islam, masalah kepemimpinan merupakan perkara yang sangat penting. Karena masalah kepemimpinan akan berhubungan dengan berbagai kebijakan yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak, dan ini akan berpengaruh terhadap kehidupan dunia akhirat. Jangankan masalah kepemimpinan yang menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara. Masuk toilet saja di Islam ada panduannya. Oleh karena itu, di dalam al-Quran maupun al-Hadis kita akan akan menemukan dalil tentang masalah kepemimpinan, diantaranya yaitu

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulil amri di antara kalian (QS An-Nisa : 59)

Dalam ayat ini Allah memerintahkan orang-orang beriman supaya mentaati Allah dan Rasul-Nya serta pemimpin diantara mereka. Jadi taat terhadap pemimpin bisa disebut sebagai ibadah kepada Allah, karena diperintahkan oleh Allah. Hanya saja sifat taat kepada pemimpin itu tidaklah mutlak seperti taat kepada Allah dan Rasul. Sehingga kalimat athii’uu dalam ayat di atas tidak diulang lagi untuk ulil amri. Karena ketaatan kepada pemimpin terikat oleh ketentuan selama tidak bertentangan dengan aturan Allah dan Rasul. Ketika perintahnya bertentangan dengan aturan Allah dan rasul, maka tidak ada kewajiban taat kepadanya. Perintah taat kepada pemimpin dalam ayat ini menjadi dilalah isyarah bahwa pemimpin itu harus ada. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis

إِذَا كَانَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

Jika ada tiga orang bepergian, hendaklah mereka mengangkat seseorang di antara mereka menjadi pemimpinnya (HR Abu Daud No. 2.609 dari Abu Hurairah Kitab al-Jihad Bab Fi al-Qaumi Yusaafiruuna Yuammiruuna Ahadahum)

Dalam keadaan safar saja diperintahkan untuk mengangkat pemimpin, apalagi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tentu perintahanya lebih kuat lagi. Bahkan dalam redaksi lain dengan ungkapan tidak halal, yang berarti haram dalam sebuah perjalanan tidak ada pemimpin

لَا يَحِلُّ لِثَلَاثَةٍ يَكُوْنُوْنَ بِفَلَاةٍ مِنَ الْأَرْضِ إلَّا أَمَّرُوْا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ

“Tidak halal bagi tiga orang yang berada di sebuah padang pasir kecuali mereka mengangkat salah seorang diantara mereka untuk menjadi pemimpinnya”. (HR Ahmad No. 6.360 dari Abdullah bin ‘Amr)

 

Indonesia menganut sistem demokrasi dalam pemilihan pemimpinnya. Di mana setiap orang berhak untuk memilih pemimpinnya. Dan orang yang terbanyak suaranya, maka dialah yang akan menjadi pemimpin. Meskipun sistim ini masih diperdebatkan, akan tetapi dalam Islam tidak ada nash khusus yang mengatur metode pemilihan pemimpin. Hal ini bisa dilihat dari prosedur pemilihan pemimpin sepeninggal Rasulullah dari mulai Abu Bakar sampai Ali itu berbeda-beda. Ketika menjelang wafat pun Rasulullah tidak memberikan petunjuk khusus tentang siapa orang yang akan menggantikan kepemimpinannya. Padahal kepemimpinan itu merupakan hal yang sangat penting. Hal ini menunjukkan bahwa memang Islam tidak memberikan aturan khusus dalam metode memilih pemimpin. Maka jika demikian, metode demokrasi pun boleh dilakukan selama tidak melanggar aturan-aturan Islam. Meskipun diakui dalam demokrasi banyak kelemahan, akan tetapi ini jangan menjadi alasan kita tidak ikut berpartisipasi dalam pemilihan pemimpin, karena mafsadat akibat tidak ikut memilih pemimpin bisa lebih besar dibanding jika ikut memilih, yaitu dikhawatirkan orang-orang jahat akan terpilih menjadi pemimpin karena orang baik kalah suara akibat kurang pemilihnya. Jika orang jahat yang memimpin maka bisa merugikan kehidupan Islam itu sendiri.

 

Jadi bagi rakyat Indonesia, memilih pemimpin adalah sebuah amanah. Orang yang tidak memilih pemimpin berarti telah mengabaikan amanahnya. Karena dengan seperti itu berarti dia telah memberi kesempatan kepada pihak lain yang tidak layak untuk menjadi pemimpin.

فَإِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ: إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

Apabila amanah sudah disia-siakan maka tunggulah kiamat. Seseorang bertanya : "Bagaimana disia-siakannya amanat itu?". Nabi menjawab: "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kiamat". (HR Bukhari No. 59 dari Abu Hurairah Kitab al-Ilmi Bab Man Suila ‘Ilman wa huwa Muataghillun fii Hadiitsihi)

 

Jangan dikira bahwa kalau kita tidak ikut memilih, berarti kita tidak ikut bertanggungjawab terhadap pemimpin yang telah terpilih. Golput atau tidak golput adalah pilihan. Dan masing-masing pilihan akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Jika memang diantara calon-calon pemimpin itu tidak ada yang baik, maka pilihlah yang paling sedikit jeleknya, pilihlah yang terbaik diantara yang jelek. Karena hidup dengan pemimpin yang tidak baik masih lebih baik dibanding hidup dengan tidak ada pemimpin. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

 

سِتُّوْنَ سَنَةً مِنْ إِمَامٍ جَائِرٍ أَصْلَحُ مِنْ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ بِلَا سُلْطَانٍ

Enam puluh tahun di bawah pemimpin yang dzalim lebih baik daripada satu malam tanpa adanya pemimpin (Ibnu Tainiyyah dalam‘Itiqad Ahlu Sunnah : 19 ; Maktabah Syamilah)

 

Jika Pemimpin Dzalim

Meskipun pemimpin itu dzalim, ketaatan kepadanya harus tetap dilaksanakan selama dalam hal yang ma’ruf. Karena ini merupakan perintah Allah. Adapun kedzalimannya maka tentu jangan diikuti, bahkan harus ditentang dengan cara nasihat yang baik. Tidak boleh melakukan pemberontakan apalagi kudeta, selama pemimpin itu masih melaksanakan sholat. Hal ini sebagimana yang disampaikan oleh Rasul dalam sebuah hadis

إِنَّهُ يُسْتَعْمَلُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ فَقَدْ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا نُقَاتِلُهُمْ قَالَ لَا مَا صَلَّوْا أَيْ مَنْ كَرِهَ بِقَلْبِهِ وَأَنْكَرَ بِقَلْبِهِ

"Sesungguhnya ada beberapa pemimpin yang akan ditugaskan untuk memimpinmu. Tetapi kamu tidak menyukai mereka dan bahkan mengingkari perintahnya. Barang siapa yang tidak menyukainya, maka ia akan terbebas dari dosa. Barang siapa yang mengingkarinya, maka ia akan selamat, kecuali orang yang rela dan mau mengikutinya (maka ia tidak akan selamat)" Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, bolehkah kami memerangi pemimpin-pemimpin seperti itu?" Rasulullah menjawab, "Tidak boleh, selama mereka masih tetap melaksanakan shalat" (Maksudnya, barang siapa yang membenci dengan hatinya, maka ia boleh mengingkari dengan hatinya pula). (HR Muslim No. 1.854 Kitab al-Imarah bab Wujubu al-Inkar ‘ala al-Umaraai fiimaa Yukhaalifu al-Syar’a wa tarki Qitaalihim ma Shalluu wa nahwi dzaalik)

Panduan dalam Memilih Pemimpin

Memilih pemimpin adalah sebuah ibadah karena diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Di dalam memilih pemimpin tidak boleh sembarangan. Sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas, barang siapa memberikan kepemimpinan kepada bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya. Maka Islam memberikan acuan dalam memilih pemimpin supaya tidak jatuh ke dalam jurang kehancuran.

 

a.       Dilarang memilih pemimpin non-muslim

Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama bahwa umat Islam dilarang memilih pemimpin dari kalangan non-Muslim sebagaimana dikemukakan oleh ayat-ayat berikut

 

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin (QS Ali Imran : 28)

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. (QS An-Nisa : 144)

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS al-Maidah : 51)

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. (QS al-Maidah : 57)

 

Kata auliya dalam ayat-ayat di atas merupakan jamak dari kata wali yang arti dasarnya adalah dekat. Kemudian kata wali ini memiliki beberapa arti seperti teman, penolong, tetangga, sekutu, dan pengurus yang kesemua arti ini bisa menunjukkan kedekatannya. Bisa juga diartikan pemimpin karena pemimpin merupakan orang yang mengurus umat dan memiliki kedekatan dengan kebutuhan umat. Kenapa dilarang memilih pemimpin dari orang kafir ? wallaahu a’alam tidak dijelaskan, mungkin diantara hikmahnya supaya tidak digunakan kekuasaannya untuk melemahkan umat Islam. Sebagaimana khalifah Umar pernah menegur sahabatnya karena telah mengangkat sekretarisnya dari orang kristen. Mengangkat sekretaris saja sudah dilrang Umar apalagi mengangkat pemimpinnya.

 

b.      Dilarang memilih pemimpin yang cenderung kepada kekafiran

Allah pun melarang memilih pemimpin yang cenderung kepada kekafiran (pro kemaksiatan) meskipun pemimpin tersebut adalah saudara kita (orang Islam). Tidak semua orang yang mengaku islam akidah dan pola pikirnya Islam. Terkadang ada orang islam yang justru pola pikirnya ingin mematikan nilai-nilai keislaman. Itulah orang-orang yang memiliki pemahaman islamophobia, sekulerisme, plularisme, dan liberalisme. Maka pemimpin yang seperti ini jangan dipilih karena tidak akan melakukan amar makruf nahyi munkar, bahkan sebaliknya.

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS at-Taubah : 23)

 

Orang-orang yang beriman tidak mungkin menjalin kasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Meskipun itu orang tuanya sendiri atau keluarga terdekatnya. Karena cintanya orang beriman kepad Allah dan Rasul melebihi kecintaannya kepada siapapun bahkan dirinya sendiri.

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. (QS al-Mujadilah : 22)

 

Maka pilihlah orang yang paling bertakwa kepada Allah, yang dekat dengan Allah dengan rajin beribadah di masjid, kuat tahajudnya, istiqomah tilawahnya, adil, jujur, amanah, juhud dan wara. Karena pemimpin yang seperti inilah yang akan membawa keberkahan dunia dan akhirat.

 

c.       Memiliki kemampuan memimpin

Sholeh dan rajin ibadah tidaklah cukup untuk modal menjadi pemimpin. Tapi juga harus memiliki kekuatan mempengaruhi orang lain, memiliki keberanian, mampu bertahan dalam tekananan, punya mental kuat sehingga tidak mudah putus asa. Karena kepemimpinan adalah masalah mempengaruhi orang lain. Orang yang sholeh tapi tidak memiliki kekuatan pengaruh, maka kesholehannya hanya akan bermanfaat bagi dirinya sendiri. Bahkan para ulama sampai mengatakan jika ada dua orang calon pemimpin, yang satu sholeh tapi kurang kuat pengaruhnya, yang satu kurang sholeh tapi sangat kuat pengaruhnya, maka pilihlah pemimpin yang kurang sholeh tapi sangat kuat pengaruhnya karena dengan kekuatan pengaruhnya ia bisa membuat orang lain lebih baik.

 

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي قَالَ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي ثُمَّ قَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةُ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا

Dari Abu Dzar bahwasanya ia telah berkata, "Saya pernah bertanya kepada Rasulullah, 'Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak memberikan tugas kepada saya?' Sambil menepak pundak saya, beliau bersabda, "Hai Abu Dzar, sesungguhnya kamu ini adalah orang yang lemah, sedangkan tugas yang kamu minta itu merupakan sebuah amanat. Ketahuilah bahwasanya, pada hari kiamat kelak, amanat tersebut merupakan sesuatu yang akan mendatangkan kenistaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengembannya dengan benar serta memenuhi segala kewajiban amanat yang telah dibebankan kepadanya." (HR Muslim No. 1.852 Kitab al-Imarah Bab Karahah al-Imarah Bighairi Dlarurah)

 

Mewujudkan pemimpin yang Adil

Kehadiran pemimpin yang adil merupakan dambaan setiap orang. Jika seseorang mampu memimpin dengan adil maka ia akan mendapat kemuliaan yang tinggi dari Allah. Karena keadilan seorang pemimpin akan dirasakan manfaatnya oleh banyak orang. Sehingga kebaikan dan keshalehan masyarakat pahalanya akan mengalir pada pemimpin. Pantas jika Allah menempatkannya pada derajat yang sangat tinggi. Diantara tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat nanti, salah satunya adalah pemimpin yang adil dan itu ditempatkan yang pertama oleh Rasulullah

 

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الإِمَامُ العَادِلُ

Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungannya, yaitu pemimpin yang adil.... (HR Bukhari No. 660 Kitab al-Adzan Bab Man Jalasa fii al-Masjid Yantadhiru al-Shalat wa fadhli al-Masajid)

 

Namun untuk mewujudkannya bukanlah hal yang mudah, perlu perjuangan yang keras. Dan amanah untuk mewujudkan itu dititipkan oleh Allah kepada setiap keluarga muslim agar diantara keturunannya ada yang menjadi pemimpin bagi orang-orang yang betakwa. Sebagaimana yang difirmankan Allah

 

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS al-Furqan : 74)

 

Jadi untuk mewujudkan pemimpin yang adil itu harus dimulai dari pendidikan di keluarga. Diawali dengan keshalehan suami istri (orang tua)baru diikuti oleh anak keturunannya. Karena keshalehan orang tua ini yang akan berpengaruh besar tehadap keshalehan anak-anaknya. Keluarga merupakan miniatur kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara. Ketika keshalehan sudah dimulai dari setiap keluarga, kemudian diikuti RT, RW, Desa, Kecamatan, Kota, Kabupaten, Propinsi, kemudian negara, insya Allah negeri baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur akan tercipta di bumi Indonesia. Pemimpin yang sholeh dan adil akan lahir dari masyarakat yang sholeh dan adil, sebagaimana ungkapan

 

كَمَا تَكُوْنُوا يُوَلَّى عَلَيْكُمْ

Sebagaimana keadaan kalian, maka demikianlah kalian akan dimpimpin (oleh orang yang seperti kalian)

 

Wallaahu ‘alam bi al-Shawwab

 

*) Abu Faqih (Guru SMP DTBS Putra)



Bimbingan Tausyah Aa Gym

Senin, 13 Maret 2017

"KEJUJURAN" More

Di Mana Dicari ‘Pemuda Kahfi’?

Rabu, 02 September 2015

Adakah pemuda bermental seperti para pemuda Kahfi itu? Jika ada, di manakah ia kini? Insya Allah, para ‘pemuda Kahfi’ akan selalu terlahir di setiap zaman. More

Asiknya Bermain Sambil Belajar

Sabtu, 28 Januari 2017

Pembelajaran di luar kelas More

Pelatihan Memory Choach

Senin, 13 Maret 2017

Memory Choach dan Manfaat Permainan Rubik More



© 2015 SMP DAARUT TAUHIID BOARDING SCHOOL. All rights reserved.