Di
era yang terus berkembang ini tentunya negara ini membutuh generasi yang cerdas
juga memiliki akhlak mulia, kemampuan berpikir kritis, serta semangat
untuk terus belajar. Sebagai seorang muslim membangun semangat belajar menjadi
hal yang sangat penting demi kemajuan umat. Mencari ilmu itu wajib dari lahir
sampai liang lahat. Semangat inilah yang menjadi dasar dari konsep Merdeka Belajar. Sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh
Ibnu Majah
“Menuntut
ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Namun,
apakah Merdeka Belajar berarti belajar sesuka hati tanpa di kekang aturan? Bagi
para santri, merdeka belajar justru berarti memiliki kebebasan untuk
mengembangkan potensi diri dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam dan
yang pastinya adab kepada guru-guru kita sendiri yang telah mengajarkan kita
semua.
Di pesantren, semangat merdeka
belajar sebenarnya telah lama diterapkan. Santri tidak hanya belajar di ruang
kelas, tetapi juga melalui kegiatan pembiasaan ibadah, musyawarah, berorganisasi,
pengabdian, hingga kehidupan bersama di sekolah mau pun di asrama. Semua
pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan karakter santri.
Khususnya di Daarut Tauhiid, Pendidikan karakter menjadi pondasi utamanya.
Karakter yang dikembangkan Adalah karakter BAKU (Baik dan Kuat).
Dalam karakter BAIK
terdapat beberapa kategori karakter yaitu: Ikhlas, Jujur dan Tawadhu
Dan dalam karakter KUAT
terdapat kategori karakter berupa: Berani, didisplin dan Tangguh.
Penguatan karakter ini
selalu ditanamkan dalam aktivitas sehari-hari santri. Tentunya dengan adanya
penguatan karakter ini kuta akan menjadi insan yang lebih Merdeka. Kuat dalam
setiap ujian yang ada, juga terbiasa dengan ketidaknyamanan.
1. Sering bertanya kepada ustaz
atau guru apabila ada pelajaran yang belum dipahami.
2. Membiasakan membaca kitab, buku,
maupun membuat karya tulis yang bermanfaat.
3. Berdiskusi dengan teman untuk
memperdalam ilmu dan melatih kemampuan berpikir kritis.
4. Mengembangkan bakat melalui
organisasi, kegiatan ekstrakurikuler, atau perlombaan.
5. Memanfaatkan teknologi secara
bijak sebagai sarana belajar, bukan hanya hiburan.
Dengan demikian, santri tidak hanya
menjadi penerima ilmu, tetapi juga pencari ilmu yang aktif di era saat ini.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk
menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Hadis tersebut mengingatkan bahwa
tujuan utama menuntut ilmu bukan hanya menjadi pintar, tetapi juga menjadi
pribadi yang berakhlak mulia dan bermanfaat bagi orang lain.
Sebagai santri, kita tidak hanya dipersiapkan untuk lulus dari sekolah atau pesantren, tetapi juga dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia. Oleh karena itu, marilah kita terus membaca, belajar, bertanya, berkarya, dan mengamalkan ilmu. Sebab santri yang merdeka dalam belajar adalah santri yang siap menerangi masa depan dengan ilmu dan cahaya iman. (Naufal Arfa Saverio)